Menggugat Islam
Harga: Rp36.900 Rp31.365
Harga dalam Point Hadiah: 15
Harga dalam Point Hadiah: 15
Penerbit : Era Intermedia
Penulis : Muhammad Qutub
Jumlah Halaman : 256 hlm.
Ukuran :15,5 x 23 cm
Resensi :
Islam digugat. Tak tanggung-tanggung, gugatan itu tidak hanya dilontarkan Barat, tetapi juga kaum Muslimin sendiri yang ikut-ikutan meragukan ajaran agamanya akibat kritik-kritik keras kalangan non-Muslim yang tidak mampu dijawabnya. Islam dinilai tidak kontekstual, anti perubahan, konservatif, reaksioner, dehumanis, diskriminatif, barbar, utopis, teroris, ekstremis, despotik, dan tirani. Publik pun akhirnya memiliki persepsi bahwa Islam hanyalah bagian dari sejarah umat manusia. Ia pernah besar, tetapi zaman keemasan itu telah berlalu. Kini kemajuan dunia semakin pesat di berbagai bidang. Kemajuan itu menuntut nilai-nilai yang akomodatif dan dapat memandunya ke arah yang melejitkan potensi manusia. Di sisi lain Islam sebagai sebuah nilai yang memiliki sejarah peradaban agung masa lalu kini memang belum secara optimal memandu gerak peradaban modern. Maka berbagai gugatan negatif pun dilontarkan pada Islam. Namun, benarkah demikian? Apakah Islam memang tidak relevan sebagai nilai alternatif peradaban? Melalui seorang cendekiawan yang gigih mendakwahkan Islam melalui pena: Muhammad Qutub, Islam menjelaskan semuanya. Islam, dengan nilai-nilai ajarannya yang agung dan suci, tidak terlalu kesulitan menjelaskan tuduhan negatif itu. Barat banyak salah paham, atau karena kedengkiannya justru ingin menjauhkan umat manusia dari Islam, yang jika tegak maka peradaban materialis Baratlah pertama kali yang akan terguncang. Apa pun, Islam harus dijelaskan, meskipun ia sesungguhnya telah demikian jelas. Untuk yang rancu maka inilah kebenaran. Untuk mereka yang dengki, yakinlah bahwa Islam lebih kuat dari lontaran peluru kedengkian mereka. Selamat mengkaji
Penulis : Muhammad Qutub
Jumlah Halaman : 256 hlm.
Ukuran :15,5 x 23 cm
Resensi :
Islam digugat. Tak tanggung-tanggung, gugatan itu tidak hanya dilontarkan Barat, tetapi juga kaum Muslimin sendiri yang ikut-ikutan meragukan ajaran agamanya akibat kritik-kritik keras kalangan non-Muslim yang tidak mampu dijawabnya. Islam dinilai tidak kontekstual, anti perubahan, konservatif, reaksioner, dehumanis, diskriminatif, barbar, utopis, teroris, ekstremis, despotik, dan tirani. Publik pun akhirnya memiliki persepsi bahwa Islam hanyalah bagian dari sejarah umat manusia. Ia pernah besar, tetapi zaman keemasan itu telah berlalu. Kini kemajuan dunia semakin pesat di berbagai bidang. Kemajuan itu menuntut nilai-nilai yang akomodatif dan dapat memandunya ke arah yang melejitkan potensi manusia. Di sisi lain Islam sebagai sebuah nilai yang memiliki sejarah peradaban agung masa lalu kini memang belum secara optimal memandu gerak peradaban modern. Maka berbagai gugatan negatif pun dilontarkan pada Islam. Namun, benarkah demikian? Apakah Islam memang tidak relevan sebagai nilai alternatif peradaban? Melalui seorang cendekiawan yang gigih mendakwahkan Islam melalui pena: Muhammad Qutub, Islam menjelaskan semuanya. Islam, dengan nilai-nilai ajarannya yang agung dan suci, tidak terlalu kesulitan menjelaskan tuduhan negatif itu. Barat banyak salah paham, atau karena kedengkiannya justru ingin menjauhkan umat manusia dari Islam, yang jika tegak maka peradaban materialis Baratlah pertama kali yang akan terguncang. Apa pun, Islam harus dijelaskan, meskipun ia sesungguhnya telah demikian jelas. Untuk yang rancu maka inilah kebenaran. Untuk mereka yang dengki, yakinlah bahwa Islam lebih kuat dari lontaran peluru kedengkian mereka. Selamat mengkaji
Tulis review
Nama Anda:Review Anda: Catatan: HTML tidak diterjemahkan!
Rating: Jelek Bagus
Masukkan kode dalam kotak berikut:
