Bagaimana Berpikir Islami
Harga: Rp19.500 Rp17.550
Harga dalam Point Hadiah: 8
Harga dalam Point Hadiah: 8
Penerbit : Era Intermedia
Penulis : Abu Azmi Azizah
Jumlah Halaman : 140 hlm.
Ukuran :12 x 19.5 cm
Resensi :
Berpikir merupakan aktifitas yang tidak pernah henti selama manusia dalam kesadarannya. Merenung, membayangkan, berangan-angan, merencanakan, memperbandingkan, hingga menyimpulkan, semua adalah aktifitas berpikir, yang dengan itulah manusia dapat mencapai kemajuan demi kemajuan dalam hidupnya. Karena luasnya obyek pikir, yakni seluas alam ini, otak tentu membutuhkan arah, agar kesimpulan yang dihasilkan tidak liar. Memang benar, dengan pengalaman dan analisanya, otak manusia memiliki daya seleksi untuk melihat mana yang baik dan mana yang buruk. Namun kemampuan itu sangatlah terbatas dan rentan terhadap pengaruh idiologi, keyakinan, dan watak setiap orang. Dari sinilah muncul ragam pemikiran, ada pemikiran sosialistis, pemikiran sekularis, pemikiran kapitalis, pemikiran materialistis, dan sebagainya, yang semua itu mencerminkan idiologinya. Selain itu, tentu saja ada pemikiran yang islamis, yakni pemikiran yang terbimbing oleh nilai-nilai ajaran Islam. Pada realitanya, banyak kaum muslimin yang keislamannya baru menyentuh hati nurani, belum lagi menyentuh wawasan berpikirnya. Ada orang muslim yang taat beribadah, namun cara berpikirnya jauh dari semangat Islam. Ini bisa terjadi karena ketidaktahuannya atau karena faktor lain. Buku kecil ini hadir untuk memberi bekal bagi siapa saja yang telah sekian lama menjadi muslim namun belum memiliki kejelasan pengetahuan bagaimana berpikir yang islami itu. Betapapun sederhana buku ini, isi dan kandungannya sangat berarti bagi kita.
Penulis : Abu Azmi Azizah
Jumlah Halaman : 140 hlm.
Ukuran :12 x 19.5 cm
Resensi :
Berpikir merupakan aktifitas yang tidak pernah henti selama manusia dalam kesadarannya. Merenung, membayangkan, berangan-angan, merencanakan, memperbandingkan, hingga menyimpulkan, semua adalah aktifitas berpikir, yang dengan itulah manusia dapat mencapai kemajuan demi kemajuan dalam hidupnya. Karena luasnya obyek pikir, yakni seluas alam ini, otak tentu membutuhkan arah, agar kesimpulan yang dihasilkan tidak liar. Memang benar, dengan pengalaman dan analisanya, otak manusia memiliki daya seleksi untuk melihat mana yang baik dan mana yang buruk. Namun kemampuan itu sangatlah terbatas dan rentan terhadap pengaruh idiologi, keyakinan, dan watak setiap orang. Dari sinilah muncul ragam pemikiran, ada pemikiran sosialistis, pemikiran sekularis, pemikiran kapitalis, pemikiran materialistis, dan sebagainya, yang semua itu mencerminkan idiologinya. Selain itu, tentu saja ada pemikiran yang islamis, yakni pemikiran yang terbimbing oleh nilai-nilai ajaran Islam. Pada realitanya, banyak kaum muslimin yang keislamannya baru menyentuh hati nurani, belum lagi menyentuh wawasan berpikirnya. Ada orang muslim yang taat beribadah, namun cara berpikirnya jauh dari semangat Islam. Ini bisa terjadi karena ketidaktahuannya atau karena faktor lain. Buku kecil ini hadir untuk memberi bekal bagi siapa saja yang telah sekian lama menjadi muslim namun belum memiliki kejelasan pengetahuan bagaimana berpikir yang islami itu. Betapapun sederhana buku ini, isi dan kandungannya sangat berarti bagi kita.
Tulis review
Nama Anda:Review Anda: Catatan: HTML tidak diterjemahkan!
Rating: Jelek Bagus
Masukkan kode dalam kotak berikut:
Most Viewed