Manusia Langit Manusia Bumi

Merek: Aqwam
Kode Produk: Aqwa-356
Ketersediaan: Tersedia
Tersedia Rp. 33.000 Rp. 28.050 (15% OFF)
Harga dalam Point Reward: 27
Jml: +
-
00 review  0 review  |  Tulis review

 

Penulis : DR. A’idh Al-Qarni, M.A.
Ukuran : 14 x 20 cm
Tebal : 256 hal
ISBN : 979-3653-21-3

Ada beberapa pertanyaan yang barangkali sering menggelayuti hati kita, disaat melihat kondisi kaum muslimin. Diantaranya sebagai berikut:
• Bukankah Allah itu Mahakuasa dan mampu menjayakan kaum muslimin?
• Bukankah Al-Qur’an yang kita baca dalam shalat kita adalah sumber kebahagiaan dan kemakmuran bagi yang mengamalkannya. • Bukankah umat Islam dikehendaki Allah sebagai umat yang satu?
• Orang yang masih ada iman di hatinya, akan merasa pedih dan sedih ketika mendengar umat Islam dibantai, terinjak-injak kehormatannya, terampas harta bendanya di berbagai penjuru dunia. Mengapa darah seorang muslim begitu murah di mata kaum muslimin sendiri? Di mana solidaritasnya?

Jika sejumlah pertanyaan di atas direfleksikan dengan kondisi umat Islam hari ini, hasilnya akan menuntut lebih banyak perenungan. Dimana kejayaan umat Islam?
Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syanqithi, ahli tafsir senior dari Arab Saudi, dalam tafsir Adhwâ’ul Bayân ‘an Hidayatil Qur’ân (Cahaya yang Jelas dalam Petunjuk Al-Qur’an) menyimpulkan bahwa jalan keluar dari berbagai masalah terpenting yang diderita kaum muslimin saat ini ada pada Al-Qur’an!
Sesungguhnya berbagai musibah, malapetaka, cobaan yang bertubi-tubi, hingga berbagai bencana adalah akibat dari jauhnya mereka dari Kitab Allah, tidak menjadikannya sebagai acuan di dalam menyelesaikan permasalahan dan tidak mengamalkan kandungannya.
Padahal Al-Qur’an adalah kitab yang agung yang mendidik jiwa manusia, membentuk kepribadian bangsa, dan membangun kebudayaan. Allah Subhanahu wa Ta'ala sendiri berfirman: “Sesungguhnya Al Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar,” (Al-Isra: 9)
Jadi, Al-Qur’an merupakan cahaya yang diturunkan Allah, supaya kita beriman dan meyakininya. Mengambil pelajaran darinya, dan agar kita mengamalkan petunjuk dan bimbingan yang terkandung di dalamnya, supaya kita keluar dari berbagai kegelapan menuju cahaya yang terang-benderang.
Para ahli tafsir sering mengungkapkan bahwa 1/3 dari Al-Qur’an adalah kisah-kisah. Tentunya kisah yang bukan sembarang kisah, yaitu kisah-kisah terbaik yang memiliki petunjuk dan pelajaran bagi kaum mukminin.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
“Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu” (Yusuf: 3)

Dr. A‘idh Al-Qarni, M.A, ulama kondang dari Arab Saudi, mencoba mengangkat petikan-petikan terbaik dari kisah-kisah Al-Qur’an dalam buku Syakhshiyyât minal Qur’ânil Karîm. Buku yang terjemahannya ada di hadapan pembaca sekalian ini adalah buku yang mencoba mencermati ‘sosok-sosok’ utama yang nantinya memiliki pengaruh besar dalam sejarah manusia.
Seakan, kisah yang disajikan dalam buku ini menjawab pertanyaan-pertanyaan menggelitik yang muncul di sekitar kita seperti; Siapakah yang lebih baik dan lebih mulia, malaikat ataukah manusia? Apa isi percakapan Nabi Musa dengan Allah? Mengapa Bani Israil selalu berbuat makar dan apa saja makar mereka? Mengapa Allah memilih Mekkah sebagai tempat turunnya wahyu? Mengapa Nabi Ibrahim ‘tega’ meninggalkan Hajar dan Isma’il di tengah padang pasir yang tandus? Dan sekian pertanyaan lainnya.
Sangat jelas, bahwa mereka bukan hanya figur pribadi manusia tertentu, namun juga bisa berifat kolektif-seperti Bani Israil- dan juga makhluk Allah lainnya, seperti malaikat dan setan. Yang jelas, ketika Al-Qur’an mengisahkan mereka, maka pengulangan tipologi dan sifat dari subyek cerita ataupun peristiwa bisa jadi berulang.
Kekuatan buku ini terletak pada kepiawaian dan keluasan ilmu, Dr. A’idh bin Abdullah Al-Qarni -yang karya-karyanya sudah tak asing lagi bagi kita- dalam menarik sari-sari nilai kemuliaan dari apa-apa yang sudah dikisahkan oleh Al-Qur’an. Dengan menggunakan metode tafsir tematik, tentunya berlandaskan hadits-hadits yang shahih dan merujuk kepada sumber-sumber yang dikenal otoritatif, seperti Tafsir Ath-Thabari, Tafsir Al-Qurthubi, maupun Tafsir Ibnu Katsir.

Hal tersebut secara otomatis menjadikan buku ini mampu menawarkan hal-hal yang sarat hikmah dan pelajaran. Setidaknya, sebagai bahan renungan dan acuan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, bisa dijadikan acuan bagi kita dalam bersikap dan menjalani kehidupan sebagai seorang muslim.

 

Tulis review


Nama Anda:

Review Anda: Note: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek           Bagus

Masukkan kode verifikasi berikut: