Berselimut Surban Cinta

Merek: Divapress
Kode Produk: Diva-1337
Ketersediaan: Tersedia
Tersedia Rp. 40.000 Rp. 32.000 (20% OFF)
Harga dalam Point Reward: 16
Jml: +
-
00 review  0 review  |  Tulis review

Berselimut Surban Cinta (Sebuah Novel Religius) Pengarang : Irwanto al-Krienchie

Sinopsis :

“Novel religius ini merajut gemuruh cinta Lazuardi, Fitrah, dan Bening dengan sangat lembut, haru, dan anggun dalam pesona iman dan etika. Kekuatan setting etnik Kerinci (Jambi) yang sangat elok adalah keunikan lain kualitas novel ini. Membaca kisah cinta ini, kuatkanlah hati Anda untuk turut bergetar, menangis, terpesona ekspresi cinta yang amat putih.” Taufiqurrahman al-Azizy, novelis pengarang Trilogi Makrifat Cinta & Kitab Cinta Yusuf Zulaikha.

Haruskah cinta putih ini yang bersumber dari lubuk hati menabrak harga diri, pengabdian orang tua, etika sosial, dan garis-garis agama? Lalu yang manakah yang harus dikorbankan: cinta, etika, atau agama? Tidak bisakah semua nilai suci itu berpadu dalam keikhlasan pelangi cinta abadi?

***

Kiai Syamsul Bahri menutup wajah Bening dan Fitrah dengan surban putih yang selalu dipakai Lazuardi, menyatukan mereka dalam pelukan cinta abadi, seraya berbisik: “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. al-Fajr [89]: 27-30).

***

Mak, Mamak, Fitrah, dan Bening…

Setelah aku bermuhasabah, merenungi perjalanan hidupku, aku berusaha menjauhi ego yang selalu mengotori kebeningan hatiku dan menodai kefitrahan diriku. Memang benar pernyataan seorang Syekh, “Selama egomu menyertaimu, engkau tak akan kenal Allah.…”

Mak, Mamak, Fitrah, dan Bening…

Setelah menyadari hal di atas, aku ingin 'kosong' dari sifat ego, supaya aku dapat mengapung di atas Samudera Makrifat, seperti pernyataan Syekh, “Hanya benda-benda kosong yang terapung di permukaan air. Kosongkan dirimu dari sifat-sifat kemanusiaan, maka engkau akan mengapung di Lautan Penciptaan.”

Akhirnya, ingatlah bahwa kunci menjalani kehidupan dengan damai adalah dengan modal keikhlasan dalam berbuat. Dan, ingatlah pesan Jalaluddin Rumi, “Jangan kau taruh harapanmu pada manusia, kau akan kecewa. Taruhlah harapanmu pada Tuhan, agar kau terselamatkan.”

Surat Bersampul Biru Lazuardi (tokoh utama novel ini)

Tulis review


Nama Anda:

Review Anda: Note: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek           Bagus

Masukkan kode verifikasi berikut: