BIDADARI BIDADARI SURGA

Merek: Republika
Kode Produk: Repu-1498
Ketersediaan: Tersedia
Tersedia Rp. 47.500 Rp. 38.000 (20% OFF)
Harga dalam Point Reward: 19
Jml: +
-
00 review  0 review  |  Tulis review

Kepedihan, penderitaan, suka cita, canda tawa, cinta dan pengorbanan, tumpah ruah di pondok bambu lembah lahambay rumah keluarga mamak Lainuri dan Laisa. Pengorbanan tulus tiada tara seorang Laisa. Setelah bapaknya meninggal dicabik2 harimau gunung Klendeng, mamak Lainuri lantas berjuang demi kelangsungan hidup anak2nya. Laisa memutuskan berhenti sekolah dan berjanji dalam hatinya untuk memperjuangkan pendidikan adik2nya hingga mereka sukses. Dalimunte, Profesor muda yang mengejutkan dunia science dengan penelitiannya “Pembuktian tak terbantahkan Bulan yang pernah terbelah”. Dan penelitiannya tentang badai elektromagnetik antar galaksi. Profesor yang berhasil menciptakan rangkaian kincir air saat umurnya beranjak 12 tahun, sebagai cikal bakal kemakmuran di lembah Lahambay.

Ikanuri dan Wibisana, 2 orang teknisi dan pengusaha sparepart hingga menjual sasis ke Eropa bersaing dengan perusahaan China. Dua bocah yang hampir diterkam siluman gunung klendeng karena saking bebalnya mereka. Yashinta, si kecil manis yang berubah menjadi peneliti pada lembaga konservasi alam, menjelajah lebih dari 27 gunung di dunia. Ia mendaki, memanjat dan menyelam hingga pedalaman papua. Mungkin jika ia tak melihat berang2 pagi itu bersama kak Laisa, ia tak akan sesukses itu, hingga kuliah s2 di Belanda.

Suatu saat mereka menerima pesan dari mamak Lainuri: “PULANGLAH. Sakit kakak kalian semakin parah. Dokter bilang mungkin minggu depan, mungkin besok pagi, boleh jadi pula nanti malam. Benar-benar tidak ada waktu lagi. Anak-anakku, sebelum semuanya terlambat, pulanglah..” Kisah perjalanan mereka diceritakan apik dan sederhana tapi menyentuh oleh penulis. Dengan gaya penceritaan alur mundur dan meloncat-loncat, cerita tetap enak dinikmati.

Haru, sedih, tawa, bangga, bergantian saat membaca kisah ini. Saya dibuat menangis oleh penulis saat detik2 kematian Laisa, bersamaan dengan pernikahan Yashinta dan Goughsky, saat Laisa menerjang hujan mencari dokter demi Yashinta. Saat ikanuri mengatakan kau bukan kakak kami.

Romantisme juga disuguhkan dalam cerita ini. Saat Dalimunte dan Cie Hui menikah di lembah strawberry. Saat Yashinta bertengkar dengan Pria setengah-setengah bermata biru keturunan Uzbekisthan. Dan saat 2 sigung bebal, Ikanuri dan Wibisana meminang Wulan dan Jasmine pada hari dengan kata2 yang sama, menikah di hari yang sama, ditambah istrinya melahirkan anak di hari yang sama pula. Saya bisa belajar bagaimana 2 bocah nakal ini meminang di depan calon mertua: “Ayah, ibu, aku tidak bisa menjajikan banyak hal buat putri kalian. Aku tidak memiliki gunung harta seperti Kak Laisa dengan ribuan hektar kebun strawberynya. Aku juga tidak sepintar professor Dalimunte yang terkenal itu. Tetapi aku punya hati. Hati yang terlanjur mencintai Wulan/Jasmine. Terimakasih banyak telah membesarkan putri kalian hingga menjadi begitu cantik, begitu menawan. Dengan segenap rasa, Ayah, Ibu ijinkanlah aku meminangnya.. ”

Atau saat Goughsky berusaha meminang Yashinta : “ Umurku enam tahun saat Ayah-Ibu pergi ditelan badai salju.. bertahun-tahun hidup tanpa keluarga.., sesak atas kerinduan memiliki ayah, ibu, kakak, adik, sebuah keluarga.. Baru sehari disini, tidak pernah kubayangkan, seperti menemukan kembali makna keluarga yang utuh.. Mamak, aku sejak kecil tidak pernah belajar dengan baik arti kasih sayang keluarga.. Malam ini, ijinkan aku belajar kata-kata itu, ijinkan aku menjadi bagian keluarga ini.. ijinkan.. ijinkan aku memperistri Yashinta. Aku sungguh mencintainya.. ” Keceriaan intan, juwita dan delima seperti buah merah strawberry yang ranum, yang buahnya segar dan manis.

Tulis review


Nama Anda:

Review Anda: Note: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek           Bagus

Masukkan kode verifikasi berikut:



Produk sejenis (1)